Warga di Sekitar Kluster Ponpes di Pangatikan Garut Belum Bersedia Swab Test

48
0
Leli Yuliani Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut

TAROGONG KIDUL – Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani mengatakan saat ini petugas dari Dinas Kesehatan belum melakukan swab test terhadap masyarakat yang ada di sekitar pesantren yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Kecamatan Pangatikan.

Pihaknya belum melakukan pengetesan kepada warga, karena warga di sekitar pesantren dinilai belum sepenuhnya sadar dengan ancaman penularan Covid-19. Padahal, ratusan santri di pesantren itu telah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

“Hasil koordinasi kita dengan forkopimcam setempat, mereka belum sadar untuk mau di-swab. Jadi butuh pendekatan sosial yang lebih ditingkatkan,” terangnya saat dihubungi wartawan, Jumat (30/10).

Leli mengatakan petugas kesehatan tak bisa serta merta memaksa warga untuk melakukan tes. Hal itu berada di luar kewenangannya.

Menurut dia, petugas kesehatan hanya mendata kontak erat dari masyarakat sekitar. Setelah itu melakukan swab test, kepada warga yang telah didata.

Karena itu, harus ada langkah dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk melakukan pendekatan kepada warga. “Kalau kita dari Dinas Kesehatan kan hanya pelaksanaan. Mungkin harus ada upaya penyadaran masyarakat yang lebih baik lagi,” terangnya.

Menurut dia, lokasi pesantren yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Kecamatan Pangatikan itu berdekatan dengan permukiman warga. Dikhawatirkan, beberapa santri yang telah dinyatakan positif Covid-19 pernah berinteraksi dengan warga.

Karena itu, pengetesan kepada warga sangat penting dilakukan untuk memastikan penyebaran Covid-19 di wilayah itu tak meluas.

Leli menyebutkan sudah 467 sampel swab yang diambil dari pesantren itu. Hingga saat ini, terdapat 163 orang yang positif Covid-19 dari klaster pesantren tersebut. Sebanyak 126 orang adalah laki-laki dan perempuan 37 orang. Dari seluruh kasus terkonfirmasi itu, tujuh orang di antaranya merupakan pengurus pesantren.

Baca juga : Garut Mulai Dipenuhi Wisatawan

Menurut dia, petugas kesehatan masih terus melakukan pengawasan di lingkungan pesantren. Petugas terus tanamkan agar para santri menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

Meski, ia memgakui kondisi di pesantren itu tidak memungkinkan untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sebab, satu kamar diisi oleh banyak santri.

“Susah untuk jaga jarak. Padahal itu kan faktor utama yang harus dilakukan. Percuma kalau pakai masker tapi tetap berdempetan,” terangnya.

Ia mengingatkan pesantren lain yang di Kabupaten Garut juga harus melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat. Sebab, pesnatren yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Kabupaten Garut bukan hanya berada di Kecamatan Pangatikan.

“Dari pesantren masih bertambah, tapi tak terlalu banyak seperti di sini. Intinya pesantren protokol keaehatan harus dilaksanakan dengan ketat,” paparnya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.