Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%

Warga Jalan 5 Km untuk Air Bersih

33
0
PENANGANAN KEKERINGAN. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Kekeringan dengan berbagai Sektoral Pemerintahan Kamis (8/8). IMAN S RAHMAN /RADAR TASIMALAYA

CIAMIS – Sampai Agustus 2019, lima kecamatan di Kabupaten Ciamis mengalami kekeringan. Warga di lima daerah tersebut juga kekurangan air bersih. Bahkan, di Desa Margajaya Kecamatan Pamarican, warga harus berjalan 2 km sampai 5 km untuk mendapatkan air bersih.

Berdasarkan data yang masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, lima kecamatan yang mengalami kekeringan itu antara lain, Kecamatan Ciamis, Pamarican, Cijeungjing, Cikoneng dan Cidolog.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ciamis Ani Supiani menjelaskan untuk menangani kekeringan di lima kecamatan tersebut, pihaknya telah menyalurkan 222.000 liter air bersih.

Daerah yang mengalami kekeringan terparah, kata Ani, yaitu Desa Margajaya Kecamatan Pamarican. Warga di sana harus melakukan perjalanan 2 sampai 5 kilometer untuk mengambil air bersih. Itu, karena, sumur warga Desa Margajaya sudah mengering.

“Mengenai bencana kekeringan kali ini sudah ada surat edaran bupati juga telah disebar berisi imbauan supaya warga bisa menghemat air, karena kemarau masih panjang,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Penanganan Kekeringan Kamis (8/8) pagi.

Bagi publik yang akan menyedekahkan air bersih, kata Ani, disarankan berkoordinasi dengan BPBD. Hal itu agar penyalurannya tepat sasaran. Terlebih, BPBD sudah melakukan survei lokasi kekeringan sebelumnya.

“Intinya kita selalu respons cepat bila ada laporan masyarakat dalam kekurangan air bersih,” ujarnya menjelaskan.

Data yang diterima BPBD Ciamis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini akan berlangsung sampai Oktober.

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Ciamis Dr H Wasdi MSi menjelaskan setiap tahun musim kemarau pasti terjadi, namun seolah warga tidak siap menghadapinya. Untuk itu, masyarakat harus mendapatkan edukasi soal penanganan kemarau. Caranya, dengan menghemat air, melakukan penanaman pohon yang mampu menyerap air hingga membuat biopori.

Langkah lainnya yaitu pengurangan penggunaan plastik dan membuat resapan air. Jadi ada langkah-langkah penanganan jangka panjang. Intinya masyarakat juga harus sadar lingkungan, dengan upaya seperti beberapa hal diatas ketika musim hujan,” ujarnya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.