Warga Kabupaten Tasik Banyak yang Was-was Datang ke TPS

119
0
radartasikmalaya
Loading...

TASIK – Waktu pelaksanaan pencoblosan di Pilkada Tasikmalaya 9 Desember 2020 tinggal sembilan hari lagi. Namun, masyarakat di Kota Seribu Pesantren itu kini dibayangi rasa waswas.

Bagaimana tidak, saat ini Kabupaten Tasikmalaya termasuk salah satu wilayah di Jawa Barat yang berstatus zona merah atau berisiko tinggi terjadinya penularan Covid-19.

Hal ini berdasarkan zoan risiko Covid-19 kabupaten/ kota di Jawa Barat periode 23-29 November 2020.

Untuk itu, banyak warga di Kabupaten Tasikmalaya mengaku resah dan waswas datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) saat pelaksanaan pencoblosan nanti.

“Bukan kita tidak mau menyalurkan hak pilih (mencoblos, Red), cuma kita butuh jaminan bahwa ketika datang ke TPS akan terbebas dari penularan Covid-19,” ujar Yunus Yuspiah (34), warga Mangunreja, Kabupaten Tasikmalaya kepada Radar, Senin (30/11).

Loading...

Menurut dia, dengan naiknya status Kabupaten Tasikmalaya menjadi zona merah Covid-19 pihaknya menjadi resah. Sebab tidak bisa dipungkiri, penyakit tersebut bisa mengenai dirinya.

”Jujur saja saya jadi waswas, untuk keluar rumah jadi ragu. Apalagi datang ke TPS yang hampir dipastikan terjadi kerumunan,” tuturnya.

Hal sama dikatakan, Ahmad Junud (40), warga Cigalontang. Dia mengaku ragu datang ke TPS pasca ditetapkannya Kabupaten Tasikmalaya menjadi wilayah zona merah.

”Dari pada saya tertular, lebih baik tidak menggunakan hak pilih. Karena saya takut dan khawatir terkena keluarga,” ujar Ahmad yang sehari hari bekerja sebagai buruh serabutan tersebut.

Warga lainnya, Nining Sutiana (28) mengatakan dirinya tidak mau mengambil risiko hanya untuk menyalurkan hak pilihnya ke TPS. Meski dirinya menyadari bahwa hak pilihnya amat penting di Pilkada.

”Tapi kalau sudah ada apa-apa, apalah kandidat atau pemerintah akan bertanggung jawab atau tidak. Itu yang menjadi pikiran saya ragu datang ke TPS,” terangnya.

Terpisah, Komisioner KPU Kabupaten Tasikmalaya Divisi Teknis dan Penyelenggaraan, Jajang Jamaludin SAg menjelaskan dalam menyikapi naik turunnya kasus Covid-19 di tengah pelaksanaan Pilkada, pihaknya terus berupaya agar berjalan aman, tertib dan sehat.

“Sesuai arahan KPU RI, kita akan upayakan pelaksanaan pencoblosan memaki protokol kesehatan ketat. Supaya pemilih terjamin terhindar dari penyebaran virus,” tuturnya kepada Radar, Senin (30/11).

Maka dari itu, pada pelaksanaan pemungutan dan perhitungan suara 9 Desember, penyelenggara akan menjadi model kepatuhan dan penegak protokol kesehatan di TPS.

“Kita akan melaksanakan upaya dan ikhtiar dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Jangan sampai tahapan pemungutan dan penghitungan suara nanti menjadi kluster baru penyebaran Covid-19,” papar dia.

Komitmen tersebut, tambah dia, untuk menjawab kekhawatiran masyarakat atau pemilih untuk datang ke TPS. Diakui, memang pasti masih ada yang meragukan atau khawatir datang ke TPS.

“Namun, kita terus gencar meya­kinkan publik. Agar mau menyalurkan suaranya di TPS. Sebab semua aspek kehadiran kita batasi di TPS, ditambah diwajibkan memakai masker dan menjaga jarak,” tuturnya.

Baca juga : Kaum Homo Dominasi HIV/AIDS di Kota Tasik, Sebagian Menyerah..

Termasuk, sambung dia, alat pelindung diri (APD) lengkap akan dipersiapkan di TPS, untuk dipakai oleh penyelenggara pemilu. “Termasuk pemilih tidak usah khawatir datang ke TPS, karena semua kebutuhan protokol kesehatan telah disediakan,” tandasnya.

“KPU menjamin ketika pemilih penyelenggara patuh menjalankan protokol kesehatan, saya yakin tidak akan ada penyebaran atau kluster baru Covid-19 di Pilkada Tasik,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, warga di Kabupaten Tasikmalaya yang terkonfirmasi positif Covid-19 tak perlu khawatir kehilangan hak pilihnya di Pilkada Tasikmalaya 9 Desember 2020.
Sebab, KPU Kabupaten Tasikmalaya tetap akan melayani hak pilihnya, agar bisa disalurkan saat pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Ketua KPU Kabupaten Tasikmalaya, Zamzam Zamaludin mengatakan saat pencoblosan nanti, petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dengan memakai alat pelindung diri (APD) atau hazmat lengkap akan mendatangi pemilih yang menjadi pasien positif Covid-19.

”Petugas kita yang dilengkapi dengan APD dan didampingi saksi serta ada berita acaranya, mendatangi warga yang bersangkutan di tempat isolasi. Kita tidak mungkin membawa yang bersangkutan ke TPS, karena berpotensi terjadi klaster penularan baru. Begitu juga dengan yang sakit, juga akan didatangi,” ujarnya kepada Radar, Senin (9/11).

Menurutnya, sesuai dengan aturan, untuk hak pilih warga bersangkutan tidak boleh diwakilkan oleh siapa pun. Kecuali jika memang ada kesepakatan, komitmen, atau dalam keadaan yang bersangkutan tidak mampu untuk menggunakan hak pilihnya.

“Sebenarnya itulah makna azas pemilihan langsung, selama yang bersangkutan masih bisa, tidak boleh diwakilkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Zamzam menjelaskan dalam penyelenggaraan Pilkada serentak tahun ini, khususnya pada hari pencoblosan nanti, pihaknya akan menerapkan protokol kesehatan ketat. “Untuk APD akan disiapkan, \karena pengadaannya sendiri baru berlangsung setelah penetapan DPT nanti,” terangnya.

Selain itu, kata Zamzam, ketika nanti ada pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS), saat dicek suhu tubuhnya melebihi 37 derajat maka tetap akan dilayani.

“Teknisnya nanti pemilih yang suhu tubuhnya mencapai 37 derajat lebih, akan dilayani dan disediakan bilik khusus di luar TPS, dengan dilayani PPS dan KPPS lengkap memakai APD dan hazmat. Kita menjamin pemilih sebagai warga negara Indonesia tetap bisa menyalurkan hak suaranya,” tandasnya. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.