Warga Kota Tasik Rindukan Sekolah Tatap Muka

61
0
H Mohammad Dani, SPd, MM Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya
H Mohammad Dani, SPd, MM Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya
Loading...

TASIK – Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya H Mohammad Dani, SPd, MM mengatakan, panduan lengkap mengenai pembelajaran tatap muka (PTM) untuk sekolah di semester genap tahun 2021 ini masih mengacu pada Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri.

Di antaranya terdapat peran pemerintah daerah yang mengizinkan sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran secara langsung dengan syarat protokol kesehatan yang ketat.

“Tindak lanjut sekolah untuk uji coba tatap muka berharap segera dilakukan,” katanya kepada Radar, Jumat (5/2/2021).

Walaupun pemerintah masih melakukan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sebagai upaya pencegahan Covid-19, aspirasi untuk sekolah dibuka kembali tetap ditawarkan kepada pemerintah daerah.

“Hal itu sebagai pertimbangan pemerintah kalau sekolah, siswa, dan masyarakat masih menantikan adanya tatap muka kembali,” katanya.

loading...

Kemudian, kalau pun kebijakan pemerintah daerah bisa dikembalikan kepada sekolah, pastilah semuanya ingin melakukan pembelajaran tatap muka.

KOSONG. Kondisi ruang kelas SD kosong, beberapa waktu lalu. Berbagai pihak menginginkan sekolah tatap muka agar pembelajaran lebih efektif dan karakter siswa terbina dengan baik. Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya
KOSONG. Kondisi ruang kelas SD kosong, beberapa waktu lalu. Berbagai pihak menginginkan sekolah tatap muka agar pembelajaran lebih efektif dan karakter siswa terbina dengan baik. Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya

Apalagi kebanyakan sekolah sudah menyiapkan pelayanan standar protokol kesehatan (prokes) dan teknis pembelajaran tatap muka secara terbatas.

“Sekolah sudah siap patuh prokes sesuai dengan edaran SKB 4 Menteri. Lalu saat pelaksanaan pendidikan tatap muka sekolah membuat jadwal shifting agar bisa jaga jarak, kegiatan ekstrakurikuler ditiadakan, dan pembelajaran maksimal empat jam tanpa istirahat,” ujarnya.

Lanjutnya, tujuan meminta pembelajaran tatap muka dengan ketat ini, karena belum efektifnya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Terlebih untuk siswa kelas satu sampai tiga harus bisa membaca, menulis dan menghitung.

“PJJ kurang efektif, misal melihat orang tua yang membimbing anaknya yang masih duduk di kelas satu SD. Mereka mengajarkan anaknya untuk membaca, menulis, dan menghitung tapi kurang fokus. Sebab orang tua punya tanggung pekerjaan atau aktivitas lainnya di rumah,” katanya.

Berbeda dengan pembelajaran tatap muka di sekolah, kata ia, ada interaksi yang bagus sehingga pembelajaran bisa tersampaikan dengan lebih baik.

“Minimal siswa mengenal lingkungan sekolah. Semoga awal tahun ajaran baru tahun 2021/2022 ada angin segar untuk mendapatkan lampu hijau tatap muka,” ujarnya.

Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Tasikmalaya Drs H Dudus Dustiana MM mengaku khawatir terutama pada daerah-daerah yang kesulitan melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sekolah di daerah memiliki keterbatasan perangkat media pembelajaran, akses jaringan internet yang kurang dan gagap teknologi.

“Kalau dipaksakan masih belajar dari rumah bisa menjadi suatu risiko berkurangnya pengetahuan dan karakter siswa. Sebab, kondisi daerah masih banyak yang susah sinyal dan tidak punya media PJJ,” katanya.

Lanjut H Dudus, efek selama 10 bulan PJJ tidak hanya menimbulkan menurunnya ilmu pengetahuan siswa, berpengaruh juga pada karakter siswa. Sebagian siswa dilaporkan berpenampilan tidak sopan, rambut dicat dan lain-lain.

“Efek PJJ berkepanjangan lainnya perubahan sikap dan penampilan siswa. Selain itu pembelajaran yang kurang diserap oleh mereka, karena kebanyakan main daripada belajar di rumah” ujarnya.

Agar dampak buruk PJJ ini tidak permanen, kata H Dudus, ia pun terus menyarankan pemerintah daerah agar bisa mencari jalan keluar dengan pembelajaran tatap muka secara terbatas dan menggunakan protokol kesehatan yang ketat.

“Proses pendidikan yang baik harus ada komunikasi tatap muka antar siswa dan guru. Karena ketika ada kesulitan tentang materi pelajaran bisa saling bertukar pikiran di situlah transfer ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter sekaligus dilakukan,” katanya. (riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.