Warga Minta Blok Seureuh Jawa Kaki Gunung Guntur Garut Jadi Taman Wisata

65
0
Istimewa WISATA. Kendaraan melintas di Blok Seureuh Jawa kaki Gunung Guntur. Warga minta adanya perubahan status dari cagar alam menjadi taman wisata alam.
Loading...

TAROGONG KALER – Masyarakat di Blok Seureuh Jawa Kecamatan Tarogong Kaler meminta pemerintah pusat mengabulkan permohonannya terkait perubahan status Blok Seureuh Jawa di Kaki Gunung Guntur yang saat ini berstatus Cagar Alam (CA) menjadi taman wisata alam (TWA).

Abdul Gofur (45), Ketua Paguyuban Guntur Berkarya mengatakanmasyarakat minta adanya perubahan status di wilayah itu untuk dikelola menjadi taman wisata baru yang lebih produktif.

“Sekarang kan itu wilayah bekas galian c yang sudah lama ditinggalkan. Luasnya ada 150 hektare. Kami minta ada perubahan status supaya bisa dikelola dan dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat wisata,” ujar Gopur kepada wartawan, Kamis (7/1).

Baca juga : Angka Kematian Pasien Covid-19 di Garut Tertinggi di Jabar

Gopur menerangkan, ketika lahan tersebut dijadikan tempat wisata alam yang dikelola oleh masyarakat, nantinya wilayah cagar alam yang kondisinya masih asri bisa terjaga.

loading...

“Selain mengelola bekas galian, juga kami menjaga area sekitarnya yang masih cagar alam tetap terjaga,” ujarnya.

Pihaknya meminta pemerintah mengubah setatus CA jadi TWA, karena sebelumnya pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup, telah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 25 tahun 2018 mengenai perubahan cagar alam menjadi Taman Satwa Alam.Namun landasan itu, hanya mengakomodasi beberapa kawasan seperti Leles, Citiis, serta sebagian area cagar alam Kamojang.

Dengan perubahan status, diharapkan masyarakat penambang pasir yang selama ini menggantungkan hidupnya dari tambang, mulai beralih untuk mengelola kawasan wisata baru di Garut.

“Kami minta dukungan semua pihak terutama Pemda Garut, agar perubahan status itu bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya minta adanya perubahan status menjadi TWA untuk kesejahteraan masyarakat. Karena ditemukan banyak manfaat yang bisa ditemukan dari perubahan status itu. “Yang kami minta itu kawasan yang sudah rusaknya saja, sementara kawasan yang masih bagus tetap cagar alam,” ujarnya.

Saat ini, di beberapa area bekas galian tambang milik wargamulai muncul beberapa area geowisata dengan konsep penataan yang baik. “Dan yang lebih penting kita tetap jaga kawasan cagar alam, biar tidak dirambah manusia,” katanya.

Abdul mencatat sebelum pandemi Covid-19, rata-rata jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan Gunung Guntur mencapai 200 orang, terutama saat akhir pekan.

“Sekarang ada agrowisata guntur vulkanik, ada KM familyserta wisata Lembah Bojong Masta,” ujarnya.

Untuk tahap awal, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp5 ribu per orang, yang digunakan untuk fasilitas kebersihan. ”Itu sifatnya swakelola yang melibatkan banyak masyarakat,” paparnya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.