Warga Mulai Khawatir

32
CEK AIR. Ooh Rokasah (52), warga RT 01/ RW 08 Situbeet Kelurahan Cipari Kecamatan Mangkubumi mengecek keadaan air sumur di depan rumahnya, Selasa (11/6).

Kekhawatiran terhadap kesulitan air bersih akibat kemarau mulai dirasakan warga. Mereka cemas kesulitan air untuk mandi, cuci dan kakus serta mengairi lahan pertanian.

Rasa cemas itu mulai dirasakan Ooh Rokasah (52). Warga RT 01/ RW 08 Kampung Situbeet Kelurahan Cipari ini khawatir saat kemarau tiba terkena dampak langsung: kesulitan air bersih. Apalagi, berdasarkan data kekeringan 2018, di Kelurahan Cipari ada tiga titik yang terkena dampak kemarau panjang saat itu yaitu di RT 01, 03, 05 / RW 08. Sehingga setidaknya 114 kepala keluarga di wilayah itu membutuhkan 4000 liter untuk memenuhi kebutuhan mereka.

“Khawatir untuk kebutuhan MCK tidak bisa terpenuhi, tidak bisa untuk mencuci baju dan bersih. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih saat kekeringan harus ke sumber mata air di Cikalang,” ujar Ooh kepada Radar di Situ Beet Selasa (11/6).

Saat kemarau, kata Ooh, dia dan tetangganya di RT 01/ RW 08 saling berbagi air bersih. Langkah itu sambil menunggu bantuan air bersih dari pemerintah dan perusahaan Kota Tasikmalaya.

“Mudah-mudahan ketika ada kekeringan di sini, pemerintah dan perusahaan di Kota Tasikmalaya cepat tanggap untuk segera mengirim air bersih,” harapnya.

Ketua RT 03/ RW 08 Kampung Situbeet Kelurahan Cipari Deni Rosdiana (46) menceritakan mayoritas warganya merupakan para petani. Jadi ketika musim kemarau panjang merasakan kesulitan air untuk mengalirkan ke sawah atau kebunnya. Untuk itu, masyarakat mengambil air ke Galunggung menggunakan paralon. “Dialirkan ke sawah dan kebun,” kata dia.

Ia berharap segera dibangun penampungan air berskala besar agar permasalahan kekeringan setiap tahunnya di Kampung Situbeet bisa teratasi.

“Segera terealisasi penampungan air agar mengurangi ketergantungan bantuan air,” harapnya.

Terpisah, Lurah Cipari Asep Kusdiana SSos sudah mempersiapkan kemarau panjang. Termasuk bekerja sama dengan pemerintah dan perusahaan membuat lubang resapan biopori di 300 titik. Ratusan lubang biopori itu dibuat di 50 RT/12 RW di Kelurahan Cipari. Termasuk pihaknya akan membuat penampungan air komunal.

“Kami untuk mengantisipasi kekurangan air bersih pada musim kemarau panjang akan membuat penampungan air komunal di Kampung Situbeet dengan anggaran Rp40 Juta. Itu, merupakan dari dana pagu indikatif kewilayahan kelurahan 2020,” kata dia.

“Namun, kebutuhan jangka pendeknya sudah berkoordinasi dengan BPBD Kota Tasikmalaya untuk mengirimkan air bersih ke kampung yang kekeringan, termasuk di Kampung Situbeet,” ujar dia. (mg1)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.