Warga Penumbangan Ciamis: Kami Sudah Capek Sering Kena Banjir, Kamar Dimodifikasi

404
0
LANTAI KAMAR DITINGGIKAN. Warga Dusun Cikopeng Desa Kertaraharja Kecamatan Panumbangan meninggikan lantai kamar agar saat air menggenangi ruang tengah rumah mereka, air tersebut tidak masuk ke kamar.

Bagi 120 kepala keluarga (KK) di Dusun Cikopeng RT 23/ 08 Desa Kertaraharja Kecamatan Panumbangan, hujan seolah peringatan agar mereka bersiap siaga, karena banjir biasanya datang.

Hampir setiap tahun, saat musim hujan, warga Cikopeng mewaspadai luapan Sungai Citanduy. Mereka pun memodifikasi perabotan rumah tangga dan tempat tinggal. Tujuannya, saat rumah mereka terendam, barang-barang ”tidak menjadi korban.” Termasuk penghuni rumahnya.

Emi (45), salah seorang warga Cikopeng bercerita. Dia modifikasi kamarnya. Dia meninggikan lantai kamar setengah meter dari ruang tengah. Jadi kalaupun air banjir menggenangi rumah, kamarnya masih aman. Dengan catatan, air banjir tidak lebih dari setengah meter. Alasan meninggikan lantai kamar tidur setengah meter, kata dia, karena biasanya banjir sekitar setengah meter.

Dengan lantai kamar tidur lebih tinggi ketimbang ruang tengah, Emi dan keluarga masih bisa tidur di dalam kamar.

Namun sejak awal 2020, kamarnya terendam banjir. Karena banjir yang melanda Cikopeng jauh lebih besar ketimbang perkiraannya. Apalagi pada Minggu (23/2) dini hari, tanggul Sungai Citanduy di kampungnya jebol.

“Kamar yang dimodifikasi, ditinggikan setengah meter juga (air) sampai masuk, padahal barang-barang sudah posisinya di atas,” ujarnya.

Loading...

“Makanya saya tidak bisa tidur, karena air masuk kedalam, sampai paginya juga beres-beres karena kursi dan perabotan rumah juga terendam, “ paparnya.

Asih (60), warga Cikopeng lainnya kini mengaku masih cemas. Dia takut saat hujan deras melanda Ciamis, Tasik dan sekitarnya, air Sungai Citanduy kembali meluap. Dia memprediksi, air pun akan masuk ke rumah-rumah warga.

“Karena tanggulnya juga jebol. Tidak jebol juga sering meluap, apalagi ini jebol pastinya akan masuk lagi ke pemukiman,” bebernya.

“Saya capek sekali pada pagi harinya barang-barang semua terendam, lumpur yang tebal sangat sulit dibersihkan, “ tuturnya.
H Undang, pemilik sawah di Dusun Cikopeng menjelaskan bahwa sawahnya 200 bata terendam banjir pada Minggu (23/2).

Akibatnya, padi yang baru umur sebulan kurang sudah rusak terendam air.
Tak hanya dia, tetangganya juga menjadi korban banjir Sungai Citanduy. Kolam ikan mereka, sebanyak 80 kolam terendam.

Ikannya habis. “Saya harap tanggulnya ada perbaikan, sehingga air tidak langsung masuk ke pemukiman lagi,” ujarnya berharap.
Warga di Dusun Cikopeng, Sukapulang Wetan, Sukapulang Kulon dan Panoongan Desa Kertaraharja Kecamatan Panumbangan menjadi korban banjir.

Mereka khawatir air Sungai Citanduy kembali menggenangi rumah-rumah mereka seperti pada Minggu dini hari (23/2).
Saat itu, air masuk ke pemukiman warga di empat kampung tersebut. Bahkan, di Dusun Cikopeng, ketinggian air sampai 1 meter.

Sejak Sabtu sore (22/2) sampai Minggu dini hari (23/2) permukaan air Sungai Citanduy memang mulai naik dan melintasi tanggul setinggi 2 meter itu, namun perlahan.

Puncaknya, Minggu sekitar pukul 01.00. Air dari Sungai Citanduy masuk ke rumah-rumah warga. Di halaman rumah, genangan air mencapai 1 meter. Itu setelah tanggul Sungai Citanduy di Desa Cikopeng jebol pada Minggu dini hari.

Tanggul yang jebol kali ini jauh lebih panjang dari kejadian 2017. Tiga tahun lalu, tanggul di kampung yang sama jebol sepanjang 3 meter. Pada Minggu dini hari, tanggul yang jebol mencapai 50 meter.

Kepala Dusun Cikopeng Enceng Edi Kurnia menjelaskan bahwa banjir kali ini terbilang parah atau lebih pa­rah ketimbang awal 2017. Saat itu wila­yah yang terdampak banjir hanya Du­­sun Cikopeng. Namun kemarin, ka­­wasan yang terendam mencapai em­­pat dusun, yaitu Dusun Cikopeng, Suka­pulang Wetan, Sukapulang Kulon dan Panoongan.

Semua dusun itu ber­ada di Desa Kertaharja Kecamatan Pa­num­bangan. “Kami harap ada pena­nga­nan perbaikan tanggul, karena kalau hujan lagi pasti akan meluap lagi ke pemukiman, merusak ber­ba­gai perabotan rumah,” ujar Enceng. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.