Warga Tasik Mulai Berburu Air Bersih

190
0
ANGKUT AIR. Sahidin (67), warga Dusun Rengrang RT/RW 17/01 Desa Cibalanarik Kecamatan Tanjungjaya mengangkut air dari Sungai Ciwulan, Kamis (27/6). RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

SINGAPARNA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat baru dua kecamatan yang mengalami kekeringan, yakni Cineam dan Sukaraja, Minggu (30/6).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ria Supriatna mengatakan, sejauh ini baru dua kecamatan yang melaporkan kekurangan air bersih. “Walaupun baru dua kecamatan yang meminta air bersih, tapi kami sudah mengantisipasi apabila semakin banyak kecamatan yang membutuhkan air bersih,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Lanjut dia, untuk menghadapi musim kemarau sudah menyiapkan perlengkapan pendistribusian air bersih. Mulai dari kendaraan, petugas dan perlengkapan lainnya. “Sampai saat ini belum masuk kepada darurat kekeringan. Namun kami tetap siaga apabila ada yang membutuhkan air,” bebernya.

Selain di Sukaraja dan Cineam, kekeringan mulai dirasakan warga Dusun Rengrang RT/RW 17/01 Desa Cibalanarik, Tanjungjaya. Mereka harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mendapatkan air bersih. “Saya berjalan kaki satu kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sumber air yang biasa diambil sudah mengering,” ujar Sahidin (67), warga Desa Cibalanarik kepada Radar.

Kata dia, kekeringan mulai terjadi setelah Lebaran. Sumur-sumur warga di dalam rumah mulai mengering, sehingga harus mencari sumber mata air bersih lainnya. “Saya sekarang berjalan satu kilometer ke Sungai Ciwulan untuk mengambil air,” paparnya.

Selain jarak jauh, kata dia, kondisi yang naik turun pun menyulitkan dalam mengangkut air. Apalagi ketika sudah mengambil air, jalannya menanjak dan harus menyiapkan tenaga ekstra. “Saya mengambil air pagi dan sore menggunakan dua ember. Airnya akan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti mandi atau wudhu, sedangkan mencuci baju dan piring harus pergi ke sungai,” terangnya.

Lanjut dia, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak belasan tahun lalu dan sudah menjadi rutinitas apabila musim kemarau datang, air bersih pasti kekurangan. “Padahal sumur-sumur warga yang ada di rumah kedalamannya sudah mencapai 20 meter lebih, tapi airnya sudah tidak ada. Bahkan yang membuat sumur bor sampai 50 meter pun juga mengalami kekeringan,” harapnya.

Loading...

Dedeh (34), warga lainnya mengaku terpaksa harus membeli air bersih untuk menutupi kebutuhan selama musim kemarau. “Saya harus mengeluarkan uang untuk membeli air sebesar Rp 30.000-40.000 sebanyak sembilan jerigen,” katanya.

Jelas dia, sembilan jerigen hanya dapat memenuhi kebutuhan untuk mandi, wudhu selama dua hari, jadi setiap minggu membeli air tiga kali. Air yang dibeli itu hanya untuk mandi dan wudhu saja, sedangkan untuk minum dan memasak membeli air galon. “Ini cukup memberatkan dalam pengeluaran bulan. Sebulan bisa kurang lebih Rp 1 juta,” paparnya.

Kepala Desa Cibalanarik Kecamatan Tanjungjaya Aip menambahkan hampir semua wilayahnya ketika musim kemarau mengalami kekeringan air bersih. “Memang di sini selalu kesulitan air ketika musim kemarau. Mudah-mudahan bisa segera ada solusi untuk daerah yang mengalami kekeringan,” harapnya.(obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.