Warga Widarasari Kabupaten Cirebon Tolak Pondok 24 Jadi Tempat Isolasi Pasien Covid-19

111
0
radartasikmalaya.com
Warga berkumpul di penginapan Pondok 24. pojokjabar

CIREBON – Puluhan warga RW 03 Widarasari Desa Sutawinangun Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, menolak rencana penginapan Pondok 24 di Jalan Widarasari Tuvarep, yang akan dijadikan tempat isolasi pasien Covid-19, oleh pemkab.

Warga beralasan bahwa lokasi Penginapan Pondok 24 berada di tengah pemukiman padat penduduk dan banyak terdapat manula serta anak–anak.

Warga pun akhirnya berkumpul di depan Penginapan Pondok 24, untuk menyampaikan aspirasi, agar rencana Penginapan Pondok 24 sebagai tempat isolasi pasien covid-19 dibatalkan pihak pemkab.

Ketua RW 03 Widarasari, Abed Menda mengatakan, penolakan tersebut atas kesepakatan warga yang khawatir akan keselamatan masyarakatnya.

Terlebih tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu dari pihak manajemen Penginpan Pondok 24, tentang rencana tersebut.

“Saya baru tahu itu setelah ada warga yang melapor, mereka mengetahui setelah ada alat-alat kesehatan dan juga tenaga kesehatan masuk ke Pondok 24,” katanya, Senin (23/11)

Pihaknya baru mengetahui akan ada tempat isolasi di penginapan Pondok 24 sejak satu pekan lalu. Kemudian, warga banyak yang menolak rencana tersebut.

Pihaknya, kata dia, segera berkoordinasi dengan pengurus RW, Pemerintah Desa Sutawinangun serta Polsek dan Koramil, untuk melakukan penolakan Pondok 24, dijadikan tempat isolasi pasien covid-19.

“Moto kami itu kan menyelamatkan warga, sesuai dengan instruksi Pemerintah, kita harus melakukan pencegahan atas Covid-19. Ini bagaimana, jika kita menjaga, ternyata ada pihak lain yang mencoba memasukan virus ini di wilayah kami,” ujar Abed.

Kuwu Sutawinagun, Dias Fakhturitasari menjelaskan, tempat penginapan Pondok 24 untuk bisa menjadi tempat isolasi harus mendapatkan ijin dari aparat setempat.

Dalam hal ini, aparat dari mulai tingkat RW maupun Pemerintah Desa belum mengeluarkan izin apapun untuk rencana tempat isolasi.

“Kalau sesuai prosedur kan izin itu harus dari RT, RW sampai Desa. Tetapi pada kenyataannya, pihak RW belum dikasih tahu tapi sudah ada operasional untuk isolasi,” ungkapnya.

Menurutnya, aksi penolakan tersebut didasari akan kekhawatiran warga apabila pondok tersebut dijadikan tempat Isolasi pasien Covid-19.
Pasalnya, selain lokasi yang berdekatan dengan permukiman warga, wilayah tersebut merupakan daerah padat penduduk dan juga sering dijadikan tempat bermain bagi anak-anak.

“Kanan kiri itu rumah penduduk, dan juga jalan ini dijadikan jalan keluar masuk warga, dan juga anak-anak. Jadi itu alasan warga menolak,” tuturnya.

Selain itu juga, Dias menyebutkan bahwa Desa Sutawinangun dan juga Kecamatan Kedawung merupakan Zona merah penyebaran Covid-19 di wilayah Kabupaten Cirebon. Karena menurutnya, sudah banyak warganya yang terkonfirmasi positid Covid-19 bahkan juga sudah ada yang meninggal akibat Covid-19.

Dias juga membantah bahwa Pondok 24 sudah mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Dikatakannya, pengelola Pondok 24 tidak menunjukan dokumen apapun kepada Pemerintah Desa terkait sudah direkomendasikan tempat tersebut untuk dijadikan ruangan Isolasi mandiri.

“Vendor waktu datang ke kami tidak membawa surat-surat, mereka hanya menyampaikan secara lisan bahwa sudah diberikan rekomendasi. Jadi kami tidak punya bukti bahwa tempat itu sudab direkom oleh Pemerintah untuk dijadikan tempat Isolasi mandiri,” pungkasnya.

(pojokjabar/radartasikmalaya)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.