Waspada, 60 Hari Tanpa Hujan

75
0
Ilustrasi

JAKARTA – Beberapa wilayah di Indonesia berpotensi tak akan ada hujan dalam jangka panjang. Demikian perkiraan dari Pusat Analisis Situasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pastigana BNPB).

Hari tanpa hujan berkategori ekstrem lebih dari 60 hari akan terjadi di beberapa wilayah Indonesia seperti Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Wilayah yang diperkirakan mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari antara lain di Jawa Timur, Jawa Barat, Bali dan Nusa Tenggara Timur,” kata Kabid Humas BNPB Rita Rosita melalui siaran persnya, Selasa (24/6).

Selain itu, Pastigana BNPB memperkirakan akan terjadi hari tanpa hujan kategori sangat panjang atau 30 hari hingga 60 hari. Fenomena ini akan terjadi di beberapa provinsi di Indonesia seperti Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

BNPB mengimbau pemerintah daerah mempersiapkan warganya dengan penyiapan sumber daya, pemantauan ketersediaan air bersih, serta pemenuhan standar minimum air untuk kebutuhan warga dan hewan ternak.

“BNPB mengimbau pemerintah daerah mengantisipasi terjadi kekeringan,” tutur Rita.

Pastigana BNPB memperkirakan awal musim kemarau 2019 akan terjadi Mei, Juni dan Juli dengan persentase sekitar 83 persen. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2019 dengan persentase 53 persen.

Sementara itu, Institut Pertanian Bogor (IPB) meminta petani padi mewaspadai ancaman kekeringan yang terjadi di musim kemarau. Terlebih musim kemarau tahun ini lebih kering dari tahun sebelumnya.

“Klinik tanaman sudah memberikan ‘warning’ ke mitra, baik jaringan organisasi tani maupun mitra lain seperti klinik pertanian dan berbagai dinas,” kata Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB Dr Suryo Wiyono, Rabu (26/6).

Dikatakannya, musim kemarau sudah menjadi ancaman tiap tahun di Indonesia. Dan sektor pertanian yang paling terdampak terutama petani padi sawah. “Setiap tahun padi sawah yang terdampak kekeringan lebih kurang 200 ribu hektare,” katanya.

Diakuinya, peringatan dini terkait ancaman kekeringan ini telah disampaikan tiga bulan lalu. Harapannya, supaya petani bisa melakukan langkah-langkah antisipasi.

Selain memberikan peringatan dini, pihaknya menyerahkan bantuan berupa cendawan outfit kepada petani padi. “Cendawan endofit ini fungsinya meningkatkan ketahanan padi terhadap kekeringan,” kata Suryo.

BMKG telah memberikan peringatan dini terkait ancaman kekeringan yang terjadi di musim kemarau ini. BMKG memprediksi kemarau tahun ini lebih kering dari tahu sebelumnya.

Sejumlah wilayah di Jawa telah memasuki musim kemarau, puncaknya terjadi pada bulan Juli-Agustus. Kemarau terjadi di sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. (gw/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.