Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.7%

8.1%

3.5%

23.6%

2.3%

45%

0.1%

16.7%

0%

Waspada Hujan Lebat Sepekan ke Depan

1477
0

MELEMAHNYA intensitas siklon tropis nakri di Laut Cina Selatan menyebabkan angin timuran di selatan ekuator turut mengalami pelemahan dan dapat meningkatkan aliran massa udara basah dari Asia masuk ke wilayah Indonesia.

Daerah pertemuan dan belokan angin diidentifikasi terbentuk di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Kondisi atmosfer yang tidak stabil di sebagian besar wilayah tersebut juga turut mendukung pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan dalam periode sepekan ke depan.

Dalam siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Deputi Bidang Meteorologi

Drs R Mulyono R Prabowo MSc menerangkan, BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan dari 11-14 November 2019, curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah.

Wilayah tersebut yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kep. Riau, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Papua.

Selain potensi hujan lebat, potensi gelombang tinggi 2.5 hingga 4.0 meter pada periode 11 – 17 November 2019 diperkirakan juga berpeluang terjadi di Perairan barat Kep. Simeulue-Kep. Mentawai, Perairan barat P. Enggano, perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga P. Lombok, Samudra Hindia barat Sumatra hingga selatan NTB.

Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.

Pada rilis sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memaparkan, pada periode peralihan musim saat ini yang perlu diwaspadai antara lain adanya potensi hujan lebat dalam waktu singkat dan angin kencang atau puting beliung.

Puting beliung adalah fenomena angin kencang yang bentuknya berputar menyerupai belalai, keluar dari awan Cumulonimbus (CB), dan terjadi di daratan—jika terjadi di perairan dinamakan Water Spout. Namun, tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena puting beliung. Ada kondisi tertentu seperti ketika kondisi labilitas atmosfer yang melebihi ambang batas tertentu yang mengindikasikan udara sangat tidak stabil.

Jika selama satu sampai tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada masa pancaroba, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun akan diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.

Karakteristik puting beliung atau angin kencang berdurasi singkat. Seperti, pertama, sangat lokal, luasannya berkisar 5-10 km. Kedua, waktunya singkat, umumnya sekitar atau kurang dari 10 menit lamanya. Ketiga, lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari. Keempat, kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama. Kelima, sangat sulit diprediksikan karena sifat kejadian fenomenanya sangat lokal. Keenam, proses terjadinya puting beliung memiliki kaitan yang erat dengan fase tumbuh awan cumulonimbus (CB). (snd)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.