Waspada Serangan Jantung Mendadak

152
0
PAPARKAN. Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dr Asep Sopandiana AS SpJP (K) FIHA usai diwawancara Radar Sabtu (22/2). Anto Sugiarto/Radar Tasikmalaya
PAPARKAN. Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah dr Asep Sopandiana AS SpJP (K) FIHA usai diwawancara Radar Sabtu (22/2). Anto Sugiarto/Radar Tasikmalaya

BANJAR – Kematian mendadak akibat penyakit jantung sering terjadi. Gejala yang paling umum adalah rasa tidak nyaman di daerah dada, terutama dada sebelah kiri. Namun kadang ada juga yang mengeluh nyeri di daerah lambung.

Dokter Spesialis Penyakit Jantung Dan Pembuluh Darah dr Asep Sopandiana AS SpJP (K) FIHA mengatakan presentasi tidak khas (atypical) serangan jantung ini besar. Dari sekian banyak orang yang positif mengalami serangan jantung ada 1/3 yang tidak mengeluh nyeri dada.

“Kalau sampai telat terdiagnosis dan tertangani ini akan berakibat fatal,” ujarnya kepada Radar, Sabtu (22/2).

Dia menjelaskan, serangan jantung yang umum memiliki gejala nyeri dada di tengah dada, dan biasanya di belakang tulang sternum atau istilahnya retro sternal. Dari situ bisa ada penjalaran ke punggung, rahang, bahu atau lengan kiri atau perut.

Keluhan nyeri dada ini bisa disertai rasa mual, muntah, berdebar, keringat dingin atau pingsan. Tapi pada kalangan tertentu yakni perempuan dan lanjut usia atau penderita diabetes bisa jadi tidak ada keluhan nyeri dada.

“Hal itu bisa jadi keluhannya hanya berupa rasa tidak nyaman di dada, leher, perut, bisa hanya berupa nyeri ulu hati, mual atau hanya keluar keringat dingin,” tandasnya.

Loading...

Maka dari itu sangat penting sekali untuk melakukan evaluasi mendalam saat pasien datang dengan keluhan yang mungkin diakibatkan serangan jantung.  Dengan cara melihat apakah ada faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah atau tidak.

Faktor risiko itu antara lain tekanan darah tinggi atau hipertensi, kencing manis atau diabetes, riwayat kolesterol darah tinggi,  merokok aktif atau pasif, obesitas atau riwayat keluarga punya penyakit jantung pada usia muda (laki-laki di atas 45 tahun dan perempuan di atas 55 tahun).

“Jika memang perlu lakukan pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiogram (EKG),” imbuhnya.

Terang dia, EKG merupakan alat bantu diagnostik penting untuk mendeteksi keberadaan serangan jantung. Serangan jantung yang tidak terdiagnosis dan ditangani benar dapat berakibat fatal.

Proses thrombosis atau penggumpalan darah, penyumbatan pembuluh darah jantung (arteri koronaria) bisa berlanjut dan mengakibatkan perluasan daerah infark. Maka otot jantung yang rusak bisa mati, sehingga fungsi jantung bisa terganggu.

Pada kasus yang berat bisa timbul komplikasi mekanis berupa rusaknya katup atau dinding jantung sehingga kondisi pasien memberat. Serangan jantung yang dibiarkan bisa juga memicu timbulnya gangguan irama fatal yang bisa mengakibatkan kematian mendadak.

“Sebenarnya cukup banyak terjadi pasien datang dengan keluhan nyeri ulu hati, tanpa di EKG (karena mungkin tidak ada) dibilang sakit lambung lalu dipulangkan, ternyata serangan jantung,” kata dia.

Padahal, baru berhari-hari kemudian karena tidak membaik datang ke dokter jantung barulah terdiagnosis serangan jantung, banyak pula yang berujung meninggal dunia di rumah.

Makanya ia berpesan, jika memang Anda atau keluarga memiliki risiko penyakit jantung dan memiliki keluhan seperti yang sudah disampaikan diatas.

Tidak ada salahnya jika Anda meminta pemeriksaan EKG untuk memastikan kondisi jantung.

“Kan tidak ada salahnya memeriksa dan melakukan pencegahan sejak dini. Mencegah lebih baik daripada mengobati,” tutur dia. (nto)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.