Waspadai Ancaman WABAH Difteri

240
0
Sumber: Diolah dari berbagai sumber

TASIK – Seorang anak berusia 7 tahun, Nur Uswatun warga Kawalu diduga terkena infeksi difteri. Dia pun langsung dibawa ke RSUD dr Soekardjo dan diperiksa lebih lanjut untuk memastikan kebenarannya.
Berdasarkan keterangan dokter periksa Puskesmas Kawalu, dr Eko Anggoro mengatakan bahwa hari Selasa (27/12) lalu ada anak yang diduga terkena difteri. Informasi yang dia dapat ada selaput nyeri ditenggorokannya. “Ada tanda-tandanya, tapi bukan saya yang periksa langsung,” ungkapnya kepada Radar, tadi malam (28/12).

Nur Uswatun langsung dibawa ke RSUD dr Soekardjo agar diperiksa lebih lanjut, selain untuk mengetahui gejala yang dialami. Pihaknya pun langsung melaporkannya ke Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya untuk proses lebih lanjut. “Sudah dibawa ke rumah sakit dan kita juga sudah lapor ke dinas,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Cecep Z Kholis mengaku sudah mendapat laporan tersebut. Tetapi pihaknya masih menunggu informasi dari pihak rumah sakit yang melakukan pemeriksaan. “Masih diduga, kepastiannya nanti setelah hasil pemeriksaannya keluar,” ujarnya.

Cecep juga menyebutkan kasus serupa juga terjadi di wilayah Kecamatan Mangkubumi beberapa waktu sebelumnya. Namun, belum dipastikan juga terkait benar tidaknya warga terkena infeksi difteri. “Baru di Mangkubumi dan Kawalu, yang ada laporan. Dan itu pun belum bisa dipastikan terkena difteri atau tidak,” tandasnya.
Pasien Difteri Kembali Meninggal
Sementara itu, setelah mendapatkan perawatan selama 11 hari di RSUD dr Slamet Kabupaten Garut, Oom Mariati (63), seorang pasien difteri asal Kampung Ciwalen Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut meninggal dunia.
Humas RSUD dr Slamet Garut Muhammad Lingga Saputra mengatakan sebelum meninggal, pasien difteri ini masuk ke RSUD dr Slamet pada 19 Desember 2017 lalu. “Pasien meninggal hari Selasa (26/12) sekitar pukul 17.55 WIB,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (28/12).
Menurut dia, sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan, jenazah Oom terlebih dahulu dimandikan dan dikapani oleh pihak rumah sakit. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan virus difteri kepada keluarga korban. “Jenazah diambil pihak keluarga hari itu juga, soal pemakamannya di mana. Kami kurang tahu,” kata dia.
Lingga mengatakan sebelumnya empat pasien difteri lainnya yang dirawat di RSUD dr Slamet yaitu Nurdin Farid (29) warga Kampung Malati Kecamatan Pasir Wangi, Julianah (16) warga Kecamatan Kadungora. Chodijah (76) warga Cimangaten Tarogong Kaler dan Siti Rogiah (15) warga Kampung Palatar Kecamatan Pakenjeng dinyatakan sembuh. “Sudah sembuh, mereka mengalami perkembangan yang baik saat dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang,” terangnya.
Wakil Bupati Garut Helmi Budiman mengatakan Pemerintah Kabupaten Garut sudah menetapkan wabah penyakit Difteri yang menyerang warganya, sebagai  Kejadian Luar Biasa (KLB). “Statusnya penyakit Difteri sudah masuk kategori KLB, setelah Jawa Barat dinyatakan kategori KLB,” ujarnya.
Menurut dia, penyebaran penyakit difteri cukup mengkhawatirkan. Sepanjang tahun ini sebanyak tiga warga meninggal dunia, dengan 17 kasus telah terdeteksi yang penyebarannya hingga 16 kecamatan.
Untuk itu, kata dia, pihaknya terus berupaya melakukan pencegahan, agar penyebaran penyakit itu tidak meluas. “Kami sudah meminta Pemerintah Pusat, untuk mengadakan pemberian vaksin secara massal,” terangnya.
Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga sudah menyosialisasikan gaya hidup sehat, sehingga penyebaran difteri bisa ditanggulangi sejak dini. “Kami juga menghimbau pada seluruh Puskesmas untuk segera mengadakan vaksin untuk mengatasi penyakit tersebut,” pungasknya.
Kemenkes Klaim Vaksin Difteri Cukup
Sudah 43 orang meninggal karena difteri sampai 20 Desember 2017. Angka tersebut meningkat dibandingkan data Kemenkes pada November lalu yang masih 32 orang meninggal. Outbreak respond immunization atau ORI sebenarnya sudah dilakukan pemerintah untuk menangani kasus tersebut. Sayangnya program tersebut hanya menyasar anak-anak.
”Kalau untuk mencakup semua penduduk memang perlu penambahan dan pengaturan produksi dari Bio Farma,” ucap Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi. Untuk ORI, Oscar mengatakan jumlah vaksin yang dimiliki pemerintah cukup. ”Cukup untuk 34 provinsi,” ucapnya. Merujuk data Kemenkes, jumlah vaksin untuk ORI 2018 mencapai 30.381.678 vaksin.
Hal tersebut dibenarkan Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kemenkes M. Subuh. Bahkan, stok vaksin yang dimiliki cukup hingga tahun depan. ”Semua produk dalam negeri,” tuturnya. Vaksin yang diproduksi Bio Farma sudah teruji kualitasnya. Buktinya, perusahaan itu sudah mengekspor vaksin ke 174 negara untuk vaksin tetes polio. Sementara itu, vaksin difteri produksi Bio Farma juga diakui serta dibeli Unicef untuk program-program mereka.
Vaksin difteri dalam ORI hanya diberikan kepada anak-anak. Yakni mereka yang masih berusia 0 hingga 18 tahun. ”Untuk anak-anak yang prioritas dan dibiayai pemerintah,” kata Subuh. Dia menambahkan, vaksin untuk dewasa selama stok masih ada dipersilahkan. Namun pembiayaan dibebankan kepada mereka yang akan melakukan imunisasi.
Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, stok vaksin tergantung produksi Bio Farma. ”Jelas cepat habis karena permintaan sangat tinggi,”ungkapnya. (rga/yna/lyn/oki/JPG)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.