Diduga Punya Riwayat Gangguan Jiwa, Polisi Sudah Periksa 10 Saksi

Wati Pernah Diikat di Ranjang

160
OTOPSI. Petugas Reskrim dan Inafis Polres Tasikmalaya menunggu proses Otopsi di Kamar Mayat RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Senin (11/2).RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Penyebab kematian Wati Trisnawati (43), warga Cipedes Kota Tasikmalaya masih menjadi misteri. Jenazahnya kemarin (11/2) diotopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Suami Wati, Toni Supriadi (43) mengata­­­­­­­­­kan tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya ditemukan tewas di Sungai Ciwulan. Wati, kata Toni, pergi sejak Sabtu (9/2), namun tiba-tiba ada petugas kepolisian yang memberitahukan Wati ditemukan meninggal. “Saya juga enggak tahu kenapa jadi begini,” ungkapnya.

Dia mengatakan Wati sudah seminggu mengalami depresi berat, beberapa kali sering mengamuk dari mulai naik ke atap rumah, teriak-teriak, melemparkan bayinya sampai keluarga harus mengikatnya di ranjang. “Memang lumayan parah,” ujarnya.

Sembilan tahun yang lalu, tambah Toni, Wati pernah mengalami depresi serupa saat anak pertamanya masih kecil. Setelah 4 bulan menjalani pengobatan alternatif, Wati kembali normal. “Kemarin pun beberapa kali dicoba pengobatan alternatif,” katanya.

Ditanya soal masalah yang membuatnya Wati depresi, Toni tidak bisa memastikannya. Namun diakui istrinya ingin sepeda motor supaya aktivitas jualan lauk pauk yang ditekuni bisa lebih mudah. “Pernah mau beli motor yang murah, tapi pas dicoba enggak nyala jadi batal,” tuturnya.

Disinggung kecurigaan pihak yang menganiaya istrinya, Toni menyerahkan hal itu kepada aparat kepolisian. Jika memang kematian Wati diakibatkan oleh penganiayaan dari orang lain, dia berharap bisa dihukum secara adil.

Kemarin, tim forensik yang dipimpin dr Fahmi Arief Hakim melakukan otopsi jenazah Wati di Kamar Mayat RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya. Proses pemeriksaan jenazah itu memakan waktu kurang lebih 150 menit.

dr Fahmi menyebutkan pada jasad Wati memang ditemukan luka-luka. Akan tetapi hasil pemeriksaan itu harus dikombinasikan dengan penyelidikan kepolisian untuk menemukan sebuah fakta. “Memang ada luka-lukanya, tapi belum bisa disimpulkan apakah luka tersebut yang menjadi penyebab kematian,” katanya.

KBO Reskrim Polres Tasikmalaya Iptu Wahyu Hidayat mengaku masih melakukan penyelidikan terkait kasus penemuan mayat Wati. Sementara ini, pihaknya sudah memeriksa sekitar 10 saksi di antaranya warga di lokasi penemuan mayat, keluarga dan warga lainnya. “Sabtu sekitar pukul 17.00, dia (Wati) masih di wilayah Kota Tasikmalaya, jadi kemungkinan tewasnya malam hari,” tuturnya.

Dari informasi dokter forensik, ditemukan air sungai dan pasir di dalam paru-paru Wati. Pihaknya menduga kuat Wati masih hidup saat berada di sungai dan meninggal saat tenggelam. “Tapi kita belum memastikan penyebab dia tenggelam,” terangnya.

Sebelumnya diketahui, warga di Kampung Sukajaya Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya geger dengan ditemukannya jasad seorang perempuan tanpa busana di Sungai Ciwulan, Minggu (10/2).

Penemuan mayat tersebut diketahui sekitar pukul 09.00, ketika seorang warga melihat mayat dalam kondisi telungkup dan terjepit di bebatuan Sungai Ciwulan.

Sontak hal ini, membuat warga tersebut kaget dan langsung melaporkan temuannya kepada warga lainnya. Yang langsung berdatangan ke tempat kejadian perkara (TKP).

Diketahui jasad tersebut bernama Wati Trisnawati (43), warga Jalan Gudang Jero II Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. (rga)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.