Beranda Kota Tasik Wawali Tandai Camat
41 Kasus Baru HIV di Kota Tasik 66 Persen Akibat Homoseksual

Wawali Tandai Camat

186
BERBAGI

TASIK – Temuan kasus HIV/AIDS di Kota Tasikmalaya terus mengalami peningkatan. Tercatat sejak Januari-Juni 2018 sudah ada 41 kasus baru di kota berjuluk Kota Resik.

Dengan persentase temuan berdasarkan jenis kelamin 34 persen menimpa kaum perempuan, sisanya 66 persen dialami kaum laki-laki.

Siapa presiden pilihan mu nanti di 2019 ?

Penemuan kasus ini diketahui di layanan PKM Indihiang 2, PKM Mangkubumi 1, PKM Purbaratu 7, PKM Cigeureung 2, PKM Cipedes 5, PKM Sambong 1, RSTCM 2 dan RSUD dr Soekardjo 21.
Dari temuan tersebut, apabila dikalkulasi secara kumulatif sejak tahun 2004 hingga saat ini, tercatat sebanyak 542 kasus positif HIV/AIDS. Dimana 120 orang diantaranya meninggal dunia,

kemudian 270 menjalani pengobatan. “Bahkan ada yang saat ini terus berobat sampai sekarang masih sehat dan beraktivitas. Kurang lebih 11 tahun jalani pengobatan,” ujar Sekretaris KPA Kota Tasikmalaya Rustam Sadeli melalui stafnya Ari Kusmara

disela Rapat Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS tingkat kecamatan dan kelurahan Kota Tasikmalaya di Ruang Rapat Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Senin (16/7).

Dari jumlah di atas, kata dia, tiga kecamatan ditenggarai menjadi wilayah yang rentan penyebaran yakni Cihideung, Cipedes dan Tawang.

Jumlah laki-laki tercatat lebih banyak lantaran merupakan gender rentan. Sebab tidak hanya tertular melalui hubungan seks dengan perempuan saja tetapi risiko juga ditimbulkan akibat hubungan sesama jenis. “Memang trennya beberapa tahun ini berubah. Penularan lebih rentan pada homoseksual (gay, Red),” ungkap dia.

Sejak 2004 hingga 2012, tambah Ari, tren penularan penyakit HIV/AIDS disebabkan penggunaan jarum suntik. Sementara dari 2012 hingga 2016, penularan dengan cara tersebut mengalami penurunan signifikan yang justru beralih kepada perilaku seksual

yaitu heteroseksual. Bahkan untuk tahun 2016, penemuan kasus HIV/AIDS yang disebabkan perilaku seksual berisiko mencapai 88 kasus atau jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yang jumlahnya hanya 58 kasus.

Tahun 2017 sebanyak 68 kasus, termasuk untuk tahun 2018, angkanya juga cukup tinggi dimana dari bulan Januari hingga Juni 2018 mencapai 41 kasus. “Yang lebih mencengangkan, penularan dari 2016 sampai dengan 2018 akibat penularan melalui hubungan seks sesama jenis,” jelasnya.

“Kita juga terus melakukan pencegahan dikalangan remaja termasuk anak-anak sekolah diantaranya kerjasama dengan guru BK melalui bimbingan konseling yang kita jadikan program edukasi pemahaman bahaya HIV/AIDS di kalangan remaja sekolah di Kota Tasik,” tambahnya.

Dorong Anggarkan Sosialisasi PIWK
Sementara itu, Ketua KPA Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf menggenjot 22 Warga Peduli Aids (WPA) yang sudah eksis di 22 kelurahan untuk terus menyosialisasikan penanggulangan HIV/AIDS. Sebab dari data yang terhimpun terbilang cukup besar dan perlu penanganan bersama dalam menuntaskan persoalan sosial ini.

“Kelurahan, kecamatan bekerjasama dengan WPA harus benar-benar pro aktif dalam menyosialisasikan hal ini (HIV/AIDS, Red). Jangan dianggap enteng, mengingat jumlah LSL (Laki-laki seks Laki-laki) cukup tinggi di kisaran 66 persen,” beber pria yang juga Wakil Wali (wawali) Kota Tasikmalaya itu.

Termasuk, kata Yusuf, risiko penularan terhadap ibu hamil yang membawa HIV/AIDS secara genetik dari kemungkinan tertular melalui suaminya. Untuk itu, dia mendorong 22 WPA bisa bergerak dan mempengaruhi wilayah lain dan terbentuk WPA di masing-masing kelurahan. Terutama di wilayah Tawang,

Cihideung dan Cipedes yang menjadi zona rentan penularan virus HIV/AIDS. “Kita mencoba bagaimana menekan angka itu, kalau sampai nol saya rasa tidak mungkin. Tapi turun signifikan minimalnya,” jelas dia.

Pihaknya akan menyusun strategi dalam menggencarkan sosialisasi pencegahan HIV/AIDS, salah satunya melalui kecamatan. Karena selama ini WPA terkendala anggaran dalam terjun ke masyarakat menyampaikan sosialisasi. “Saya minta camat alokasikan dari PIWK (Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan) untuk dana sosialisasi HIV/AIDS. Kelihatannya selama ini belum ada, sebab WPA swadaya saja. Ingat kalau ada camat tidak peduli, akan saya catat dan tandai,” tegasnya. (igi)

loading...
BERBAGI
Artikel sebelumya29 Tahun Bersama
Artikel berikutnyaDua Pesawat Dua Kejadian