Wisata Cipanas Garut Masih Ditutup, Pedagang Oleh-Oleh Merana

163
0
JALAN SEPI. Jalan di kawasan Objek Wisata Cipanas lenggang kemarin. Ditutupnya wisata berimbas pada menurunnya pendapatan pedagang oleh-oleh.

TAROGONG KALER – Sepinya objek wisata di kawasan Cipanas Kecamatan Tarogong Kaler berimbas kepada pendapatan sejumlah warung dan toko oleh-oleh.

Sudah dua bulan, para pedagang tak bisa mendapat penghasilan.

“Kadang cuma bawa uang Rp 5.000 ke rumah. Tapi sering juga nggak dapat uang sama sekali. Kalau seperti ini, bisa-bisa gulung tikar,” ujar Aep Hendi (46), pedagang di kawasan Wisata Cipanas Selasa (2/6).

Baca juga : Satu Desa Dikarantina Tiga Warga Garut Dinyatakan Positif Virus Corona

Selama wisata ditutup, jarang ada pembeli datang ke warung kelontong miliknya.

Sebelum terjadi pandemi corona, biasanya ia mengantongi uang Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu ke rumah. “Makan juga seadanya saja. Paling sama ikan asin. Yang penting ada nasinya,” katanya.

Pendapatan utamanya hanya mengandalkan berjualan di warung. Ia berharap kawasan objek wisata bisa segera dibuka agar pendapatannya bisa kembali seperti semula.

Hal senada dikatakan Nisa (56), salah seorang pemilik toko oleh-oleh di Jalan Otista Kecamatan Tarogong Kaler.

Ia mengaku baru mulai kembali membuka tokonya. Sebulan lebih, ia harus menutup tokonya.

Selain itu, ia terpaksa merumahkan pekerjanya. Hal itu karena tidak ada pemasukan selama toko ditutup.

“Baru setelah lebaran buka lagi. Para pekerja juga sudah bekerja lagi setelah sebulanan dirumahkan,” ucapnya.

Dirumahkannya para karyawan karena omzet tokonya turun drastis. Selain itu, faktor kesehatan juga jadi alasan para pekerja harus tinggal di rumah. “Apalagi waktu PSBB, jam operasional dibatasi. Bisa sampai tidak ada yang beli. Saya harap bisa normal lagi biar penjualan kembali bagus,” katanya.

Sejak pandemi Covid-19 terjadi dan akses perjalanan dari luar kota dibatasi, Nisa mengaku pegawainya memang dirumahkan. Selain karena alasan kesehatan, hal lainnya juga karena angka penjualan oleh-oleh turun drastis. “Bisa sampai tidak ada yang beli.

Tapi memang turun drastis dibanding hari-hari biasa diluar pandemi Covid-19. Sekarang kita buka lagi karena PSBB di Garut tidak dilanjutkan dan adanya kebijakan soal new normal.

Kita berharap agar angka penjualan oleh-oleh bisa bagus lagi,” terangnya.

Baca juga : Jelang New Normal, Tiga Warga Selaawi Garut Positif Covid-19

Ia menjelaskan selama toko oleh-oleh di Garut tutup, banyak pengusaha yang terkena dampaknya. Dampak tersebut dikarenakan mayoritas toko yang menjual oleh-oleh melakukan sistem konsinyasi dengan pemasok barang.

“Jadi ya kalau toko oleh-olehnya tutup, mereka tidak produksi kebanyakan. Main di online juga katanya kurang bagus,” paparnya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.