WTS Usia 16 Tahun yang Mangkal di Gebu Tasik Jangan Dianggap Sepele

7190
12
Candra Wahyudi

SINGAPARNA – Terjaringnya wanita tuna susila (WTS) belia, RP (16) oleh Dinas Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya di Kompleks Gedung Bupati menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah.

Hal itu diungkapkan Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya dari Fraksi Partai Demokrat Candra Wahyudi kepada Radar, Kamis (12/3).

Baca juga : 40 Liter Tuak Siap Edar Disita Polsek Indihiang Tasik saat Patroli Dini Hari

“Menurut saya WTS belia di Gebu ini tamparan bagi bupati yang harus segera mengeluarkan kebijakan konkret dalam menyelesaikan persoalan ini sebelum semakin parah,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Lanjut dia, fenomena WTS belia ini harus menjadi perhatian serius dan jangan dianggap sepele. Karena, RP yang baru berusia 16 tahun harus rela putus sekolah dan menjajakan dirinya karena faktor ekonomi orang tuanya.

“Persoalan-persoalan yang dialami RP ini semuanya merupakan tanggung jawab pemerintah, kenapa dia bisa putus sekolah termasuk kesejahteraan orang tuanya seperti apa sampai dia rela menjajakan dirinya demi memenuhi kebutuhannya,” katanya.

Loading...

“Saya harapkan Pak bupati bisa hadir dalam persoalan-persoalan sosial seperti ini dan menyelesaikannya dengan baik. Kalau saya lihat bupati jarang sekali muncul dan bersikap tegas dalam permasalahan publik,” katanya, mengeluhkan.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya Dr Mohammad Zen mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjuti kasus WTS belia yang diamankan di Kompleks Gebu.

“Kami sudah rapat terbatas dengan Dinas Satpol PP. Setelah koordinasi dengan Dinas Satpol PP, kita upayakan di setiap sudut pintu masuk ke kompleks perkantoran setda ada penjaganya. Pengawasan akan ditingkatkan dengan penambahan petugas,” kata Zen kepada Radar, Kamis (12/3).

Kata dia, memang cukup dimaklumi masih saja ada kejadian atau penyimpangan yang dilakukan di sekitar Kompleks Gebu, karena pintu gerbang masih tahap penyelesaian.

“Intinya karena sudah beberapa kali terjadi kejadian, pemerintah tidak akan diam terus. Paling tidak kita meminimalisasi jangan sampai terulang lagi persoalan-persoalan seperti ini,” jelas dia.

Selain pengawasan, kata Zen, pihaknya akan memerintahkan Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos-PMD dan P3A) untuk menemui keluarga perempuan tersebut dan memberikan pembinaan.

“Kita tugaskan Dinsos bersilaturahmi ke orang tuanya supaya anak tersebut tidak terjerumus lebih dalam. Kemudian akan diberikan pendidikan dan pelatihan supaya punya skill keahlian dan bisa berpenghasilan,” katanya.

Diakui Zen, pemerintah daerah harus hadir untuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, salah satunya persoalan sosial seperti ini. (yfi/dik)

Loading...
loading...

12 KOMENTAR

  1. Maaf,ini menurut saya bukan masalah pintu gerbang atau area gebu,yg harus d jaga 24j.buat apa gebu bagus megah klo rakyatnya kekurangan,,,,

  2. Waduh ngerakeun bro,dikomplek gebu aya nu jualan apem kadempet,bershkeun ah nu kitu mah.!! kedh dikarantina pasihan bimbingan nu sae.!!

  3. Bagus tapi msh kurang terawat.. Beberapa kali sy sholat ke mesjid yg begitu megah. Toiletnya sangat kotor bahkan berlumut. Padahal biaya pembangunannya pasti besar sekali.. Dan sedihnya mesjid gebu yg bgt megah klo subuh jamaahnya sedikit sekali.. Bbrp kali nnggak smp 10 orang. Dan trnyaya lbh menyedihkan lg ada rakyatnya yg hra terjebak dalam dunia prostitusi dalam usia yg sangat belia.. Dimanakah pemimpin2nya yg katanya wakil dari rakyat?????
    Sungguh amanat kami akan diminta pertanggungjawabannya kelak.

  4. Maaf…. Klo menurut saya permasalahanya bukan terletak pada pintu gerbang yg blm selesai dibangun, tapi Bahamians cara pemerintah daerah tsb mengentaskan permasalahan yg dialami keluarga itu… Hrs ada solusinya, tidak sekedar pembinaan saja. Kasihan usia anak sekolah sampai terjun jadi psk.

  5. Memalukan sekali ini tamparan buat pemangku kebijakan ini baru yang terungkap jangan jangan masih banyak yan bernasib sama. Tolong di buatkan program program yang pro rakyat. Malu atuh di komplek gebu masjid megah ari rakyat sangsara ngerakeun pisan

  6. Maaf… Menurut sya ini bukan prihal keamanan di sekitran gebu atau faktor yang di alamai keluarga ny, tapi ini soal akhlak dari RP tersebut.
    Saya sebagai warga tasik, malu dengan problem ini, karena tasik kasohor kota santri.
    Cik atu sing bener ngaji na, ulah ngejo wae.

  7. Istigfaraneun sadayana pihak. Anakna kedah dibina kitu oge orangtua na sami kedah dibina. Dek kumaha oge anak mah kumaha orangtua na.

  8. Kurangnya perhatian dan kurangnya adab pada anak jaman sekarang,itu yang membuat anak jaman sekrang banyak yang terjerumus kedalam hal seperti itu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.