YLKI Minta Fintech Diblokir

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta agar otoritas memblokir jasa keuangan online, financial tehcnologi (Fintech).  Sebab, makin hari  banyak pengaduan konsumen yang menjadi korban.

“Banyak konsumen terjebak menjadi korban perusahaan fintek berupa utang atau kredit online,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, di Jakarta,  Rabu (12/9).

Saat ini, lanjut Tulus,  sudah lebih dari 100-an pengaduan konsumen korban fintek diterima YLKI, baik berupa teror, denda harian dan atau bunga/komisi yang setinggi langit. YLKI melihat banyak pelanggaran hak-hak konsumen, baik secara perdata dan atau pidana yang dilakukan perusahaan fintech. Pelanggaran itu berupa teror fisik by phone/whatsapp/sms.

“Pengenaan denda harian yang sangat tinggi, misalnya Rp 50.000 per hari dan atau komisi atau bunga sebesar 62 persen dari hutang pokoknya. Ini jelas pemerasan kepada konsumen,” kata dia.

YLKI juga mendesak OJK untuk segera memblokir perusahaan fintek yang tidak mempunyai izin (ilegal), tetapi sudah melakukan operasi di Indonesia. Dari lebih 300 perusahaan fintek, yang mengantongi izin dari OJK hanya 64 perusahaan saja. Ini menunjukkan OJK masih sangat lemah dan atau tidak serius dalam pengawasannya.

YLKI pun meminta konsumen untuk tidak melakukan utang piutang dengan perusahaan fintek atau kredit online yang tidak terdaftar dari OJK. Jika konsumen nekat dan terjebak pada hutang piutang dengan perusahaan fintek, maka tidak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

“Kami juga menghimbau konsumen yang menjadi korban teror dari perusahaan fintek, untuk segera melaporkan secara pidana ke polisi. Patut diduga apa yang dilakukan pihak fintek kepada konsumen, berupa teror dan penyedotan data pribadi secara berlebihan, adalah tindakan pidana,” kata Tulus.

Sebelum menggunakan ap­likasi pinjaman online, kon­su­men diharapkan untuk membaca dengan cermat. (ant/fin)

loading...